MENGENAL PANTI ASUHAN SEMARA PUTRA KLUNGKUNG

Kabupaten Klungkung merupakan kabupaten yang paling kecil dari 8 kabupaten yang ada di bali. kabupaten ini memiliki empat kecamatan yaitu kecamatan klungkung, dawan, banjarangkan dan kecamatan nusa penida. Kabupaten klungkung ini sesungguhnya lebih dikenal karena object pariwisatanya Taman Gili Kertagosa, dengan lukisan wayang kamasannya nya yang banyak menceritakan sejarah kejayaan Kerajaan Bali jaman dulu yang berpusat di swecapura (gelgel) hingga ke semarapura (ibukota kabupaten saat ini).

Benda-benda pusaka warisan kerajaan klungkung ini masih tersimpan rapi dan di pajang di museum Semarajaya yang terletak tepat bersebelahan dengan Taman Gili Kertagosa. Persis disamping Kertagosa terdapat monumen Lingga joni yang di bangun untuk mengenang perjuangan rakyat klungkung melawan belanda tgl 28 april 1908, yang akhirnya di kenal dengan nama puputan klungkung. Bagi yang tertarik melakukan perjalanan wisata spiritual, kabupaten klungkung memang dikenal karena keberadaan Pura Gowa Lawah, Pura Watu Klotok, Pura Dasar Gelgel, Pura Kentel Bumi, ataupun pura Dalem Ped yang terletak di kepulauan nusa penida.

Dari cerita diatas, Kabupaten Klungkung memang banyak dikenal orang karena kejayaan sejarahnya di masa lalu, namun tidak banyak yang mengenal tentang keberadaan Panti Asuhan di kabupaten klungkung, salah satunya Panti Asuhan Semara Putra, yang berlokasi di Jalan Dewi Sartika no 5 Semarapura Klungkung . dimana Panti asuhan ini didirikan sejak tahun 1984, oleh mantan bupati klungkung yang menjabat saat itu yaitu dr. Cokorda Gede Agung, dengan maksud dan tujuan mengajak masyarakat untuk ikut peduli akan anak-anak yang tidak beruntung ataupun anak cacat yang terdapat di Kabupaten Klungkung.

Dalam perkembangannya hingga sekarang Panti Asuhan ini tidak hanya mengasuh anak-anak cacat tetapi juga mengasuh anak-anak yang kurang mampu secara ekonomi agar dapat menyelesaikan sekolahnya hingga pendidikan SMA. Panti Asuhan Semara Putra rata rata memiliki sekitar 120 – 200 orang anak asuh; mulai dari anak usia sekolah dasar (SD), anak usia sekolah menengah pertama (SMP) dan anak usia sekolah menengah atas (SMA). Beberapa orang anak diantaranya adalah anak cacat; tuna netra, tuna rungu, tuna wicara, tuna mental, tuna dasa/cacat fisik, dan anak autis. Anak-anak yang cacat disekolahkan di Sekolah Luar Biasa (SLB) yang letaknya persis di depan panti. Sementara anak lainnya adalah anak tidak cacat/normal, namun yatim piatu, atau berasal dari keluarga miskin, atau anak terlantar.

Panti asuhan ini diasuh oleh 7 orang pengasuh, menariknya, setiap tahunnya biasanya ada saja warga negara asing (Jerman) yang menjadi sukarelawan menjadi tenaga pengajar bahasa Inggris. Sehingga keberadaan tenaga pengajar jerman ini memberikan suasana yang berbeda dalam proses belajar mengajar dan tentunya membuka wawasan anak didik di panti asuhan dengan memiliki kesempatan berinteraksi langsung dalam kesehariannya dengan warga asing.

Lebih lanjut mengenai program sukarelawan yang di jumpai di Panti Asuhan Semaraputra Klungkung ini , adalah merupakan salah satu usaha dari anak kandung pengelola panti asuhan ini yang kebetulan alumni dari Göttingen Jerman dan alumni dari ITB Bandung, yaitu  Dr.rer.nat I Made Agus Gelgel Wirasuta  dengan memperkenalkan panti asuhan ini di departement sosial Jerman. Karena program kerja sosial bagi warga jerman selepas sekolah SMA (khususnya laki laki) adalah masih wajib dilakukan bila mereka tidak tertarik mengikuti program wajib militer untuk latihan membela negara. Beberapa ada yang melakukan kerja sosial di panti jompo di jerman, dan beberapa lagi ada yang melakukan kerja sosial di luar negeri. Orang jerman yang memang di kenal suka berwisata keluar negeri, banyak memanfaatkan program kerja sosial di luar negeri ini sembari pelesiran cuma cuma , karena mereka juga bisa mendapatkan support finansial bila mengajukannya dan bila proporsalnya di setujui pemerintah jerman.

Kembali ke panti asuhan semaraputra klungkung, dalam memenuhi kebutuhan biaya operasional panti asuhan ini dilakukannya secara swadaya, seperti dengan mengajukan proposal kepada instasi-instansi pemerintah yang terkait, salah satunya ke pemda kabupaten klungkung dan departement sosial. namun menurut penuturan kepala Panti Asuhan Ibu Made Gunasih, bantuan beras dan lauk serta bantuan keuangan dari departement sosial seperti biasanya tidaklah mencukupi kebutuhan rutinnya. Oleh karenanya kekurangan-kekurangan ini haruslah di usahakan sendiri, seperti menjual hasil kebun, atau hasil ternak, atau hasil penjualan banten canang, hasil karya anak didik panti asuhan ini.

Bila mendengar curhatan pengelola panti asuhan ini memang membuat kita tersentuh. Dan memang tidak seharusnya pengelola panti asuhan itu berjuang sendiri. Seperti tertulis dalam Undang-Undang Dasar UUD 1945, pasal 34 yang menyebutkan bahwa Fakir Miskin dan anak-anak terlantar di pelihara oleh negara. pasal 34 ini memiliki 4 ayat:

  1. Fakir miskin dan anak-anak terlantar di pelihara oleh Negara.
  2. Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memperdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan.
  3. Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak.
  4. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini di atur dalam undang-undang.

Sesuai dengan UUD 1945 diatas, Fakir miskin memang menjadi tanggung jawab pemerintah, namun demikian, menurut bapak Dr. -Ing I nengah Sudja, warga Klungkung alumni Aachen Jerman yang saat ini berdomisili di Jakarta, mengajak setiap orang (khususnya mereka yang dari Klungkung ataupun dari Bali) untuk turut membantu sesama umat manusia, berdharma bakti melakukan “Karma Yoga”. Bantuan tidak serta merta di definisikan dalam bentuk Uang. Bagi yang memiliki keahlian, bisa turut membantu sesuai dengan keahliannya, seperti apa yang dilakukan oleh pekerja sosial dari Jerman yang bernama Moritz M, Stephan Obermayer, Johannes Domeier, Mathias Hirt, dll yang pernah mengajarkan pelajaran Bahasa Inggris kepada anak-anak Panti Asuhan. Sehingga kedepannya anak-anak panti asuhan ini di harapkan bisa memiliki masa depan yang lebih baik dengan bekal tambahan ilmu pengetahuannya.

Terkesan dengan perjuangan dari pengelola panti asuhan semaraputra dan himbauan dari Bapak Nengah Sudja , salah satu teman saya seorang wanita bali yang menikah dengan warga jerman, yang kebetulan menjadi pengajar sekolah SD di Jerman dan memiliki hobby Yoga, sempat menghabiskan masa liburannya di bali dengan mengajarkan Yoga di panti asuhan semara putra klungkung ini. Kesan yang ia dapatkan setelah berbaur dengan anak anak panti asuhan dan menyumbangkan keahlian yang ia miliki memberikan kebahagiaan batin yang melebihi kebahagiaan berlibur yang biasa ia lakukan.

Refleksi

Seperti apa yang di sampaikan Svami Vivekananda yang menyatakan dalam hidup ini ada tiga (3) hal yang patut didermakan atau di sumbangkan yaitu:

  • Dharmadana ( memberikan budi pekerti yang luhur untuk merealisasikan ajaran agama ).
  • Vidyadana ( memberikan pengetahuan )
  • Arthadana ( memberikan materi yang dibutuhkan walaupu sedikit asalkan didasari hati yang tulus iklas dan diperoleh atas dasar dharma ).

Dari ketiga macam dana punya yang menduduki kedudukan paling penting / paling tinggi adalah Dharmadana yang menengah Vidyadana terakhir Arthadana. Dan memang benar apa yang di sampaikan oleh Swami Vivekananda , menderma, menyumbangkan sesuatu , atau membantu orang lain tidak selalu di definisikan dalam bentuk materi ataupun dalam bentuk uang. Keahlian yang kita milikipun bisa kita sumbahkan dengan ikhlas yang juga bisa meringankan beban orang lain dan akan membuat orang lain bahagia.

Kita memang tidak mungkin bisa melakukan semuanya , namun kita pasti bisa berbuat sesuatu sesuai dengan kemampuan kita atau sesuai dengan minat kita. Mengakhiri cerita ringan dari kampung halaman saya dengan mengutip kata orang bijak, kebahagiaan itu ternyata sederhana. Kebahagiaan tidak selalu di dapat dengan hanya pergi mengunjungi tempat-tempat baru, melainkan dapat juga dilihat ataupun di temui dari mengunjungi tempat-tempat lama ataupun mengunjungi kampung halaman kita  dimana kita terlahir dan kemudian amati yang berubah. Sekecil apapun kontribusi dari kita terhadap tanah kelahiran kita pasti bisa ikut membawa perubahan yang bermanfaat buat orang lain.

sumber foto: panti asuhan semara putra

 

Comments

comments

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *